Mitos Hubungan Perkawinan Anak Pertama dengan Anak Pertama

By | October 1, 2019

Di tengah masyarakat Indonesia ada sebuah larangan bahwa seorang anak pertama tidak boleh menikah dengan yang sama-sama anak sulung. Anak pertama paling cocok menikah dengan anak bungsu. Atau kalau tidak, anak kedua dan seterusnya, yang penting jangan sampai sulung dengan sulung atau mbarep dengan mbarep. Demikian juga untuk anak terakhir tidak boleh dengan anak terakhir atau bontot dengan bontot atau ragil dengan ragil.

Mitos ini telah mendarah daging bagi banyak orang. Dan seperti sudah menjadi keharusan untuk dilaksanakan dan diterapkan pada keluarganya, jika tidak maka mereka yang percaya meyakini jika dilanggar akan terjadi hal yang tak diinginkan, pernikahan tidak bahagia dan hal-hal jelek lainnya. Hal ini tentu membuat pesimis bagi pasangan yang telah merencanakan pernikahan dalam waktu cepat ataupun lambat.

Mitos Hubungan Perkawinan Anak Pertama dengan Anak Pertama

Adat yang berupa larangan ini sebenarnya memiliki maksud yang baik, yaitu dalam rangka mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. Dasar penilaiannya adalah dari faktor psikologi anak yang akan menikah tersebut. Yaitu:

Anak pertama atau anak sulung atau anak mbarep memiliki kecenderungan sifat psikologi:
-Memimpin dan melindungi
-Memiliki keputusan sendiri
-Mandiri dan merasa bisa sendiri tanpa orang lain
-Suka mengatur dan tidak mau diatur
-Tidak mudah menerima pendapat orang lain.

Perkawinan Anak Pertama dengan Anak Pertama

Anak terakhir atau anal bontot atau anak ragil memiliki kecenderungan sifat psikologi:
-Manja dan suka ketergantungan kepada kakak atau orang tua
-Cenderung penurut pada kakak dan orang tuanya

Nah coba bayangkan jika anak pertama ketemu dengan anak pertama !
Hasilnya adalah cenderung mereka akan selalu bertengkar, kaku pada pendapat dan pikiran sendiri, susah untuk mengerti satu sama lain. Inilah yang dikhawatirkan oleh orang jawa atau suku lain terhadap pernikahan antara anak pertama dengan anak pertama.

Kemudian bayangkan jika anak terakhir menikah dengan anak terakhir ! Hasilnya adalah mungkin keluarga yang tidak mandiri, masih menggantungkan pada orang tua atau saudara. Kepala keluarga yang tidak tegas, hal ini tentunya tidak baik bagi masa depan keluarga nantinya.

Dan kemudian bayangkan jika anak pertama menikah dengan anak terakhir ! Inilah kondisi ideal yang diharapkan atau dicari oleh orang jawa dalam mencarikan atau menyetujui jodoh untuk anaknya. Kedua kecenderungan psikologi akan saling melengkapi. Apa lagi kalau yang anak pertama adalah laki-lakinya, yang anak terakhir adalah wanitanya. Cocok sekali untuk menjadi suami istri.

Tetapi apakah itu betul? mari kita lihat dari tinjauan agama !
Islam memberikan solusi pencapaian sebuah keluarga yang bahagia tanpa memandang latar belakang yang menikah itu anak nomor berapa.

Kemudian apakah adat itu salah? kan tujuannya baik yaitu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia ! Ada tiga kesalahan yang ada dalam adat ini jika diterapkan di zaman sekarang, yaitu:

1. Tidak mengadopsi kondisi jika yang mau menikah adanya cuma anak pertama dengan anak pertama atau tinggal anak terakhir dengan anak terakhir.

2. Di suatu daerah jangakauan sudah tidak ada lagi calon yang memenuhi adat ini, maka bisa-bisa nggak jadi menikah sampe tua. Bukankah ini sebuah pelanggaran baik dari sisi kemanusiaan maupun sisi kemasyarakatan. Artinya ada kondisi adat membelenggu seseorang sehingga tidak jadi menikah.

3. Belum lagi masalah cinta. Apabila menikahkan seseorang tidak berlandaskan cinta, maka ini sudah pasti kelihatan dari awal bahwa keluarga yang terbentuk tidak bahagia. Bagaimana seorang suami akan sayang kepada istrinya dalam kondisi tidak cinta atau sebaliknya. Demikian juga untuk cinta yang tidak kesampaian. Seseorang lelaki yang sudah terlanjur cinta pada seorang gadis atau sebaliknya, ketika ternyata yang menjadi istrinya adalah orang yang tidak dicintai, maka kasus yang sering terjadi adalah perselingkuhan.

Penilaian hanya didasarkan pada keumuman kecenderungan psikologi. Bagi para suami yang penasaran dengan cara memiliki banyak istri cantik, jangan ragu untuk selalu berjuang dan berdoa.

Memang benar anak pertama cenderung keras sifatnya dan akan terakhir cenderung manja. Tetapi bagaimana jika yang terjadi adalah kondisi keluarga yang menjadikan anak-anaknya manja semua. Walaupun anak pertama bisa saja manja karena dari kecil didampingi oleh pengasuh, apapun dipenuhi dan dituruti sehingga tak ubahnya seperti anak terakhir. Atau anak terakhir menjadi lebih dewasa karena pola asuh orang tuanya.

Lalu bagaimana prinsip yang paling memenuhi untuk dijadikan pedoman dalam mengambil jalan menuju pernikahan baik oleh orang tua mapupun oleh calon yang mau menuju jenjang pernikahan ?

Bahwa prinsip hidup yang baik adalah yang bisa menjangaku seluruh sisi kondisi kehidupan tanpa kecuali. Apapun kondisinya, prinsip hidup yang bagus dan baik tidak ada kelebihan yang menimbulkan kekurangan atau masalah di lain hari. Semua akan baik-baik saja jika prinsip itu dijalankan.

Ada satu hal yang bisa menjawab hal bahwa apapun kondisinya pernikahan itu akan bahagia yaitu niat “bahwa pernikahan adalah ibadah”. Untuk mencapai niat seperti ini tentunya orang tersebut sudah memiliki bekal ilmu agama yang cukup sehingga sudah bisa menempatkan posisi dirinya ketika hidup dan bermuamalah dengan orang lain.

Dalam agama Islam, Nabi s.a.w telah memberitahukan bahwa jika pernikahan itu dibangun bukan atas dasar niat agama (ibadah) maka pernikahan itu tidak akan bahagia. Karena pedoman hidup yang paling sempurna adalah agama.

Tetapi sayangnya yang terjadi adalah orang lebih cenderung untuk menjalankan agama separo-separo dan masih mencampurkan dengan adat dan nafsu yang seringnya adat dan nafsu ini bertentangan dengan ajaran agama.