Kumpulan Testimoni Sedekah Brutal

By | November 12, 2019

Kumpulan testimoni sedekah brutal. Matematika sedekah tentu berbeda dengan matematika biasa. Sebagaimana testimoni dan fakta yang terjadi di tengah masyarakat, yakni makin sedekah makin kaya. Matematika ilahiyah, atau matematika sedekah, ketika seseorang bersedekah maka nilainya akan bertambah. Dan tentu saja, tetap dengan niat yang tulus ikhlas karena mengharapkan ridho Tuhan Yang Maha Esa.

Kumpulan Testimoni Sedekah Brutal

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

1. Memperoleh Hadiah Motor dengan Sedekah Brutal

Kumpulan Testimoni Sedekah Brutal

Sejak kerja tahun 2008, kegiatan membagi-bagikan rizki saat lebaran alhamdulillah sudah saya lakukan. Tapi tahun ini berbeda, karena emang bener-bener diniatkan untuk bersedekah, dan lebih besar pula nominalnya dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Saya 100% ga ngerasa rugi atau takut nanti kehabisan uang, niat sedekahnya pooollll…. Saya lupa tepatnya yang saya sedekahkan berapa, tapi kira-kira ga lebih dari Rp. 1.200.000. Itu saya bagikan ke saudara yang kurang mampu dan janda tua di kampung halaman orang tua saya di tegal (kebetulan lagi mudik).

Setelah beberapa lama saya saya pulang mudik, tiba-tiba pada tanggal 29 September 2011 (saya ingat betul tanggalnya), ada telepon masuk yang berasal dari Bank Bank BCA cabang Cimanggis. Katanya saya menang undian Gebyar BCA dan mendapatkan hadiah motor. Awalnya saya tidak percaya karena memang saat ini banyak sekali penipuan dengan model seperti ini. Tapi yang bikin saya cukup percaya adalah mereka meminta saya datang langsung ke bank membawa buku tabungan dan KTP.

Masih blom percaya, akhirnya saya coba langsung telepon customer service BCA yang nomornya ada di kartu ATM, dan ternyataaa…

Alhamdulillaahirobbil’aalamiin, saya memang benar-benar memenangkan hadiah motor tersebutt! Saya dapet motorrr yang selama ini saya idam-idamkan!! Ucapan selamat dari customer service udah ga saya peduliin lagi hehe.. Saya cuma bisa bersyukur dan mengucap alhamdulillahirobbil’alamiin berkali-kali.

Seumur hidup, saya belum pernah dapat hadiah semahal ini, belum pernah juga menang undian. Saya lalu berpikir kenapa bisa dapet ya, dan langsung flashback teringat tentang sedekah yang saya lakukan saat lebaran kemaren. Saat itu saya hampir nangis saking senengnya, apalagi waktu kasitau nyokap yang ikut senang dan langsung tersenyu, Her smile is my happiness. Besoknya saya langsung bolos kerja buat ngurus pengambilan hadiah hehe..

Setelah semua beres diurus, seperti mimpi.. Motor itu benar-benar ada di depan mata!! Saya dapet motor Honda Beat terbaru, yang kalau beli harganya sekitar Rp 12.00.000. Luar biasa, Allah Swt betul-betul menepati janjiNya untuk membalas minimal 10x lipat. Sedekah saya yang saat lebaran sekitar Rp 1,000,000 langsung dibalas tuntas persis 10x lipat menjadi Rp 12,000,000!

Dan akhirnya… pada tanggal 5 oktober 2011 motornya nyampe rumah dan saya langsung buru-buru pulang dari kantor!! Ga sabar pengen megang sekalian narsis langsung foto-foto meskipun masih pake baju pabrik.

Allah Swt memang benar-benar menggantinya berkali lipat. Ini pasti semua pengaturan dari Allah Swt. Karena sebenernya rekening BCA saya udah 6 bulan tidak ada pemasukan karena pindah bank tuntutan perusahaan baru dan saldonya juga gak seberapa.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Saya sekarang semakin yakin bahwa ber-investasi dengan-Nya memang tak akan pernah rugi. Insya Allah mulai hari ini saya akan terus rutin bersedekah.

2. Hajat dan Impian Terwujud
Sudah hampir setahun ini saya tinggal di Jerman untuk melanjutkan belajar S2. Belajar di Jerman adalah impian saya sejak saya kelas 4 SD. Jerman adalah negara impian saya. Sampai kemudian saya kuliah S1 di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, saya masih bermimpi untuk melanjutkan study ke jerman. Berbagai seleksi beasiswa saya ikuti. Dari mulai Studien Reise sampai Sommer Kurs. Tapi tak satu pun yang saya dapat.

Berbagai lomba dari goethe Institut saya ikuti dengan hadiah ke Jerman, pun tak satu pun yg saya menangkan. Sedih itu pasti, karena merasa Jerman begitu jauh digapai. Tapi alhamdulillah saya tidak pernah lelah mengejar mimpi saya. Mimpi melanjutkan study ke Jerman masih rapi saya simpan di dalam hati, di dalam pikiran dan di dalam doa saya. Cacian dari teman sudah sering saya dapatkan.

Bahkan sampai sekarang saya masih bisa mengingat kata-kata seorang kawan KKN saya, “Kamu mau study ke Jerman? Mimpi!!!!” Rasanya sakit mendengar kawan saya berkata demikian, tapi saya tidak pernah membenci kawan saya itu, karena entah kenapa kata-kata kawan saya itu menambah semangat saya untuk terus mengejar mimpi.

Tahun 2007 akhir saya lulus S1, setelah mendapat ijazah saya langsung mendaftar beasiswa. Saat itu saya menemui banyak kesulitan karena kebanyakan beasiswa Master hanya untuk orang yang mempunyai pengalaman kerja minimal 2 tahun. Saat itu saya berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa S2 agar saya tidak merepotkan orang tua lagi.

Akhirnya saya putuskan untuk melamar pekerjaan. Alhamdulillah tidak lama setelah kelulusan saya diterima bekerja di salah satu universitas di Yogyakarta. Bukan sebagai Dosen tapi sebagai Staf Administrasi. Selama bekerja saya tetap mencari peluang beasiswa. Dari mulai beasiswa ke Swiss sampai yang ke Amerika. Beasiswa apa saja yang cocok dengan qualifikasi yang saya punya saat itu.

Seleksi demi seleksi saya jalani, saya tetap gagal di pertengahan seleksi atau di seleksi akhir. Lama-lama saya rasakan begitu berat. Bulan Juli Tahun 2010 saya mengumpulkan kertas-kertas dokumen yang sudah saya siapkan untuk mendaftar beasiswa Master DAAD (waktu itu sambil menangis).

Waktu itu sekitar pukul 6 sore saya mengirim aplikasi beasiswa saya di kantor pos pusat Yogyakarta. Waktu itu hujan, saya naik motor menuju kantor pos pusat karena disana buka layanan sampai jam 8 malam. sore itu memang harus saya kirim , karna aplikasi paling lambat harus berstempel tanggal 31 Juli 2010. Dalam hati saya berkata “Ya Allah, sampai disini perjuangan saya, saya tidak akan melamar beasiswa lagi.”

Malamnya saya tidak bisa tidur karena saya harus memutuskan sesuatu untuk hidup saya. Jika tahun ini masih gagal juga, maka saya hanya akan bekerja saja. Malam itu saya putuskan: selagi menunggu pengumuman beasiswa, karna ini adalah beasiswa terakhir yang saya daftar, maka saya harus berusaha sepenuh hati. Saat ini yang saya harus lakukan adalah memperbaiki ibadah dan perbanyak doa.

Mulai saat itu saya rutinkan sholat tahajud, sholat dhuha dan tentu saja, SEDEKAH. Saya menyebutnya Sedekah gila-gilaan (sedekah dengan nominal terbanyak yang pernah saya lakukan). Setiap hari Jumat saya sedekah sekitar Rp 200-250 ribu, berlangsung dari Juni sampai November. Saya tidak mau setengah-setengah dalam berusaha, waktu itu saya berpikir karena ini terakhir saya perjuangkan mimpi saya, jika jawabannya tidak juga. paling tidak saya tidak menyerah begitu saja.

Seminggu sekali setiap hari jumat saya datangi rumah tahfidz (rumah hapalan Alquran), disana saya biasanya memberi amplop yg isinya uang sedekah dan kertas doa, di kertas itu saya tuliskan doa-doa saya termasuk doa agar saya lulus seleksi beasiswa. Kertas doa itu nantinya akan dibacakan oleh santri-santri disana setiap mereka selesai sholat. begitu seterusnya selama berbulan-bulan.

Akhirnya saya menemukan titik terang. Saya mendapatkan Email dari Technische Universitaet Dresden, Jerman yang menerangkan bahwa saya lolos ke tahap wawancara. Saya sangat bahagia waktu itu, lumayan pikir saya waktu itu, naik ke tahap selanjutnya. Beberapa hari kemudian pihak Technische Universitaet Dresden menelepon saya, waktu itu saya sedang bersama teman-teman di rumah coklat di Yogyakarta.

Setelah wawancara selesai saya memberanikan diri bertanya dalam bahasa Jerman waktu itu, “Ist das sicher, dass ich dieses Stipendium bekommen?” (“Apakah saya pasti dapat beasiswa?”), jawabannya tidak memuaskan , “Anda belum tentu lolos di tahap wawancara ini”. Ya sudahlah, saat itu saya tidak mau banyak pikiran , saya hanya mau terus berusaha sampai keputusan final.

Tiba-tiba pada tanggal 9 Desember 2010 sebuah Email datang yang isinya:

Dear Ms. Manggalasari, we are pleased to inform you that you have been awarded a scholarship for the master course “Vocational Education and personnel Capacity Building” at the TU Dresden, Germany.

Saat itu langsung bergetar hati saya.. deggg… deggg… deggg… Subhanallah..

Nilai beasiswa yang saya terima sekarang ini sekitar Rp 500 juta. Sekarang di Jerman saya kembali rutinkan sedekah gila-gilaan dengan nominal Euro, karena saya punya banyak cita-cita, pengen banget umrah bareng Ibu dan Bapak dan juga pengen nikah.

3. Sedekah Brutal Dibalas Hadiah Rumah

Testimoni Sedekah Brutal

Waktu ramadhan 2010, Hadi sedekah uang Rp 600 ribu ke salah satu masjid di Jogja. Rp 600 ribu itu pun bukan dia sendirian, tapi berdua sama temennya masing-masing Rp 300 ribu. Mereka sedekah ke mesjid buat orang yg buka puasa.

Tanggal 19 Agustus 2010, waktu itu kita sekeluarga ke Jogja untuk menghadiri acara wisuda ade ku ini. Hadi kuliah di UGM. Setelah acara wisuda selesai, Hadi dpt SMS yang ngabarin kalo dia dapet beasiswa untuk ngelanjutin S2 di UGM juga. Alhamdulillah kita semua seneng, cita-cita dia untuk ngelanjutin S2 kesampaian. Padahal tadinya dia udah pesimis juga bisa dapat beasiswa ini, soalnya sudah tidak ada kabar 3 bulan lebih, jadi dia juga hampir sudah lupa ngelanjutin S2.

Singkat cerita lanjutlah dia melanjutkan S2 di UGM. Saat liburan lebaran, Hadi balik ke rumah dan dia bilang pengen beli sepeda, katanya buat olahraga. Pengen jadi biker katanya hehe.. Saat kembali ke Jogja dia pun membeli sepeda dan mulai bersepeda ke kampus. Suatu hari ada temennya ngajakin ikut acara Fun Bike yang diadain salah satu sekolah tinggi terkenal di Jogja.

Awalnya dia ogah-ogahan dan daftar di hari terakhir, itupun temannya yang daftarin. Besok paginya Hadi dan teman-temannya udah siap-siap dan bersemangat ikut acara Fun Bike tersebut. Ternyata eh ternyataa… Pesertanya ada 12 ribu orang!! DUA BELAS RIBU ORANG!!!!

Sebelum peserta dilepas ada obrolan ringan antara hadi dan teman-temannya, kurang lebih begini katanya, “Di, mudah-mudahan gue deh yg dapet doorprize hadiah utama rumahnya, soalnya bentar lagi kan gue mo nikah.” Panitia emang nyediain 1 unit rumah untuk hadiah utama, mobil xenia tuk hadiah ke-2, trus motor, kulkas, laptop, tv, hp dan lain-lain deh pokoknya. Trus ade ku bilang, “Iya deh lo rumah gpp, gue dapet mobil aja.”

Tibalah saat pelepasan para peserta. Setelah bendera tanda start dikibarkan, para peserta mulai menuntun sepedanya masing-masing.. Lho kok dituntun sepedanya? Kenapa ga dinaikin? Jawabannya: karena ga bisa dinakin, pesertanya kebanyakan ada 12 ribu orang! Hehehe… Baru setelah beberapa kilometer bisa dinaikkin. Pesertanya ga cuma dari Jogja aja, tapi dari kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Selesai acara Fun Bike smua peserta kumpul di lapangan buat liat acara hiburan yang diadain panitia dan tentu saja buat ngikutin acara pengundian doorprize. Panitianya bilang untuk pengumuman pemenang besok sudah bisa dilihat di situs kampus. Karena males ngikutin acara hiburan, Hadi pulang ke kost. Besoknya dia liat pengumuman di situs yang dikasi panitia dan nama Hadi ga ada di daftar pemenang doorpize, karena emang pengumuman pemenangnya belum ada hehehe..

“Oohhh ya sudahlah, lagian ga ngarepin dapet doorprize juga.” Kata Hadi dalam hati. Waktu itu hari Senin, nah lusanya atau hari Rabu pas lagi kuliah Hadi ditelpon sama temennya yang sama-sama ikutan Fun Bike dan daftarin dia ikut Fun Bike juga. Temennya itu bilang kalo dia lihat nama Hadi ada di daftar urutan nomer 1 pemenang doorprize Fun Bike dan berhak atas HADIAH UTAMA yaitu 1 UNIT RUMAH TYPE 37 seharga Rp 107 juta!

Hadi langsung pulang ke kostan buat ngambil nomor peserta, menghubungi panitia dan besoknya dia ketemu sama panitia Fun Bike. Pas ketemu panitia, panitianya bilang “Ya ampun maaaasss, mas kmana aja? Hampir aja kita mau susulin mas ke cianjur ke alamat yg ada di KTP. Gimana mas perasaannya? Kok mas kaya ga seneng sih?”

Si Hadi jawab, “Bukannya ga seneng mas, saya bingung aja gitu, percaya ga percaya hehe..” Setelah serah terima hadiah secara simbolis yang dikasih kunci gede banget itu, Hadi pulang ke kost-an seperti tidak terjadi apa-apa, padahal temen-temennya udah pada heboh minta makan-makan lah.

Subhanallah ya, cuma sedekah 300 ribu, Allah Swt mengembalikannya bukan lagi 10x lipat, bahkan lebih dari 700x lipat! Mulai dari Hadi dapet beasiswa S2 di Jogja dan di Karlstad University – Swedia dan dapat hadiah rumah. Kalau itu semua ditotalkan nominalnya adalah ratusan juta rupiah. Saya semakin yakin, memang benar bahwa jika Allah Swt sudah ingin memberikan sesuatu kepada makhluk-Nya, tidak ada satupun yang bisa menghalangi.

Sumber:
https://muhammadassad.wordpress.com/