/, Politik/Demonstrasi Anti Ahok Besar Besaran di Jakarta

Demonstrasi Anti Ahok Besar Besaran di Jakarta

Kelompok-kelompok Islami di balik jatuhnya mantan gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menyerukan umat Islam untuk memilih menentang kandidat presiden dan partai politik yang mendukung pemerintah Cina pertama dan kedua Kristen.

Dalam sebuah reli besar yang menunjukkan semakin besarnya pengaruh kaum Islami dalam politik Indonesia dan pemilihan umum 2019, ratusan ribu Muslim konservatif berbondong-bondong ke Monumen Nasional Monas di Jakarta pada Minggu 2 Desember untuk memperingati ulang tahun kedua  anti-Ahok 2016 yang mengarah ke penahanannya untuk penodaan agama.

Ahok, sekutu dekat dan wakil Presiden Joko “Jokowi” Widodo ketika yang terakhir menjabat sebagai gubernur Jakarta, dinyatakan bersalah menghina Al-Qur’an dalam kasus penistaan ​​agama yang secara luas sebagai cacat dan bermuatan politis.

Demonstrasi, yang diselenggarakan oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya 212 Alumni, ditagih sebagai “reuni” bagi mereka yang berpartisipasi dalam protes 2016, meskipun dengan cepat berubah menjadi panggung politik bagi para pemimpin oposisi dan pengkritik keras pemerintahan Jokowi.

Selain menyerukan umat Islam untuk memboikot kandidat yang didukung oleh partai politik yang telah mendukung Ahok, mereka juga mendukung gerakan anti-Jokowi yang membawa moniker #2019GantiPresiden.

Para pengunjuk rasa membawa ribuan bendera berbagai warna yang mengandung keyakinan Islam “Tidak ada Tuhan selain Allah”, juga dikenal sebagai tauhid, dan slogan-slogan yang dinyanyikan untuk membela bendera, yang mereka sebut “spanduk Nabi”.

Bendera tampaknya telah berfungsi sebagai simbol pemersatu bagi berbagai kelompok Islami yang bergabung dengan gerakan 212 di tengah kontroversi seputar pembakaran satu oleh anggota Banser, kelompok militer di bawah sayap pemuda Nahdlatul Ulama, GP Anshor, yang dianggap pro-Jokowi.

Ketua Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang menantang Jokowi dalam pemilihan presiden untuk kedua kalinya, tampil singkat di rapat umum bersama Gubernur Jakarta Anies Baswedan, yang mengalahkan Ahok dalam pemilihan regional 2017.

Politisi koalisi oposisi lainnya juga hadir, termasuk pendirian Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, Majelis Permusyawaratan Rakyat Pembicara Zulkifli Hasan dan wakil ketua Gerindra dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada panitia karena telah mengundang saya hari ini. Saya bangga melihat jutaan orang Indonesia, jutaan Muslim, berkumpul di sini dengan damai, ”kata Prabowo dalam pidatonya di rapat umum.

“Saya bangga menjadi Muslim Indonesia.”

Jokowi, yang tampil pada tahun 2016, tidak diundang ke acara terbaru ini dan bukan pula pasangannya dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin, yang pernah menjadi tokoh berpengaruh di antara 212 aktivis.

Ma’ruf sebelumnya telah menandatangani sebuah fatwa yang menyatakan bahwa komentar Ahok adalah penghujatan, yang dianggap sebagai pemicu untuk unjuk rasa tahun 2016.

Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab mengambil bagian dalam kelompok melalui panggilan telepon dari Arab Saudi, di mana dia tinggal. Dia meminta pendukungnya untuk melanjutkan perang melawan Ahok selama pemilihan presiden dan legislatif 2019.

“Selama pemilihan 2019, kami harus memilih calon presiden dan legislatif yang didukung oleh partai-partai yang mendukung para penghujat,” katanya, mengacu pada Ahok.

Prabowo telah direkomendasikan sebagai calon presiden pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional untuk Melindungi Fatwa Ulama pada bulan Agustus, sementara semua pihak yang mendukung Ahok pada tahun 2017 sekarang mendukung Jokowi.

 

2018-12-04T12:16:07+07:00

About the Author:

Seorang pengusaha muda, menyukai kopi dan hewan lucu.